Minggu, 05 Juli 2015

Psikoterapi tugas 3

PSIKOTERAPI-SOTSKILL
Tugas ketiga

Carilah 1 contoh kasus nyata, yang dikutip dari sumber ilmiah (jurnal, artikel penelitian), yang menggambarkan bahwa proses therapeutik dapat bekerja secara tepat dalam membantu proses pemulihan psikologis  klien.

  1. Gangguan apa yang terjadi pada klien ?
            Kecemasan pada ibu saat menghadapi proses persalinan yang ditandai dengan tegang, bingung, sering bertanya kepada petugas tentang perkembangan kemajuan persalinan, perasaan tidak menentu, gelisah, gampang menangis, dan lain sebagainya.

  1. Metode Therapeutik apa yang digunakan ?
            Metode komunikasi Therapeutik (meningkatkan hubungan interpersonal). Dimana cara untuk mengurangi kecemasan antara lain: memberikan informasi untuk mengetahui ketakutan yang jelas, membuat hubungan kerja sama dengan pendamping, menjadi pendengar yang baik, menunjukkan sikap simpatik, membantu dan komunikatif terhadap ibu yang akan bersalin.
                                                                                                  
  1. Apa saja peran dari orang-orang rela merawat, dalam melakukan therapeutik ?
            Peran dukungan dari keluarga dapat membantu mengurangi kecemasan saat proses persalinan dan bidan juga memiliki peranan yang penting dalam memberikan informasi dan penjelasan terhadap pertanyaan dan keluhan ibu, bidan juga memberikan bimbingan maupun arahan pada ibu sebelum menghadapi proses persalinan.

  1. Hambatan apa yang terjadi dalam melakukannya ?
            Hambatan yang terjadi yaitu tingkat kecemasan ibu yang berbeda-beda, sehingga dalam melakukan proses therapeutik juga berbeda.

  1. Dampak apa saja yang menandakan bahwa klien mengalami pemulihan?
            Setelah pelaksanaan komunikasi therapeutik 84,5% ibu nifas tingkat kecemasannya menjadi menjadi ringan dan hanya 5,4% tingkat kecemasannya menjadi sedang. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi therapeutik mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kecemasan klien.

Daftar Pustaka

            Yusnita, R. (2012). Hubungan komunikasi therapeutik bidan dengan kecemasan ibu bersalin di ruang kebidanan dan bersalin rumah sakit umum daerah kabupaten pidie. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Banda Aceh.

Nama kelompok
  • Aini Putri H.              (10512501)
  • Diella Putri P.            (12512085)
  • Dinar Ajeng P.          (12512172)
  • Nunik Rahmatika S. (15512435)
  • Prestila Juli A.           (15512705)
  • Rheza Putri P.           (16512234) 

Kelas : 3PA09

Rabu, 06 Mei 2015

Tugas 2 Psikoterapi – Softskill


Terapi Keluarga
A.     Pengertian Terapi Keluarga
          Terapi keluarga adalah suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan (Kartono dan Gulo, dalam Kamus Psikologi).
          Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual punya konsekuensi dan konteks sosial.
          Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui masalah seseorang, memahami perilaku, perkembangan simptom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga merupakan suatu cara untuk menata kembali masalah hubungan antar manusia khususnya keluarga.
          Family therapy merupakan terminologi yang mengacu pada metode yang dilakukan pada keluarga dengan berbagai kesulitan biopsikososial. Dasar utama family therapy adalah bahwa masalah yang dihadapi individu secara esensial bersifat interpersonal, bukan intrapersonal, sehingga resolusinya menghendaki intervensi yang diarahkan pada hubungan antar individu.
          Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis terstruktur yang dipandang sesuatu yang salah.
          Pendekatan terapi keluarga dari Virginia M. Satir menekankan hubungan perkawinan sebagai poros pembentukkan semua hubungan keluarga lainnya. pasien tertentu, misalnya, seorang anak atau remaja yang bermasalah adalah anggota keluarga yang paling terpengaruh oleh hubungan perkawinan yang sakit. Perilaku si anak yang bermasalah itu akan mengganggu hubungan orang tua dan sebaliknya. Pola komunikasi yang terganggu dari sebuah keluarga mengungkapkan sifat dari masalah yang mendasarinya.

B. Cara Melakukan Terapi Keluarga
          Proses terapi keluarga meliputi tiga fase yaitu, fase 1 perjanjian, fase 2 kerja, dan fase 3 terminasi.
1.      Fase 1 (Perjanjian)
Di fase pertama terapis membuat kontrak pertemuan dengan keluarga dan mengumpulkan data, selama tahap ini terapis memfasilitasi proses penentuan masalah yang diidentifiksai oleh keluarga, di fase ini juga terapis dan klien mengembangkan hubungan saling percaya, tujuan terapi ditetapkan bersama, terapis dan keluarga mengeksplorasi masalah lain yang berkaitan dengan masalah utama, terapis mensistensis semua informasi dan anggota keluarga menetapkan apa yang ingin mereka ubah.
2.    Fase 2 (Kerja)
Fase kedua,  keluarga dengan dibantu terapis berusaha mengubah pola interaksi diantara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga. Selama fase ini terapis mengidentifikasi kekuatan dan permasalahan keluarga, kekuatan keluarga berguna dalam membantu keluarga untuk tetap stabil. Biasanya setiap sesi dilakukan satu kali seminggu dengan waktu lebih kurang satu jam.
3.    Fase 3 (Terminasi)
Pada fase ini terapis harus melakukan review masalah yang telah teridentifikasi dengan keluarga dan menegosiasikan kembali kontrak dan jumlah sesi-sesi keluarga. Keluarga akan melihat lagi proses yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi dan cara cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

C. Manfaat Terapi Keluarga
1.    Bagi Klien
·         Mempercepat proses penyembuhan
·         Memperbaiki hubungan interpersonal
·         Menurunkan angka kekambuhan
2.    Bagi Keluarga
·         Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga
·     Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga lebih dapat menerima, toleran dan menghargai klien sebagai manusia
·   Keluarga dapat meningkatkan kemampuan dalam membantu klien dalam proses rehabilitasi

D. Kasus-kasus yang Diselesaikan Dalam Terapi Keluarga
          Kasus-kasus yang dapat diselesaikan dalam terapi keluarga antara lain masalah ketidakharmonisan perkawinan pada pasangan suami dan istri, masalah orang tua dan anak, masalah antar saudara kandung, pola komunikasi yang terganggu dari suatu keluarga, kenakalan remaja yang terjadi pada anak, konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan, pengasuhan yang tidak baik dari orang tua.

E. Contoh Kasus yang Menggambarkan Terapi Keluarga
     Daphne merupakan seorang perempuan yang memiliki tinggi badan 5 kaki 11 inci dan beratnya 102 pound. Dia telah merasa "besar" karena ketinggian di atas teman sekolahnya di kelas lima. Dia telah menjalani diet sejak itu. Selama tahun pertamanya di sekolah, Daphne memutuskan bahwa ia harus mengambil langkah-langkah drastis untuk menurunkan berat badan lebih. Dia mulai dengan mengurangi asupan kalori sekitar 1.000 kalori per hari. Dia kehilangan beberapa kilo, tapi ia tidak puas, jadi dia mengurangi asupan hingga 500 kalori per hari. Dia juga memulai program olahraga berat. Setiap hari, Daphne tidak akan membiarkan dirinya makan sampai ia berjalan setidaknya 10 mil. Lalu ia hanya mengkonsumsi beberapa jenis sayuran dan segenggam sereal. Kemudian di hari itu, dia mungkin mengkonsumsi sayuran dan buah lebih banyak, tapi dia akan menunggu sampai ia begitu lapar sampai pingsan. Berat badan Daphne turun sampai 110 kilogram dan ia berhenti menstruasi. Ibunya mengungkapkan beberapa kekhawatiran tentang betapa Daphne hanya makan sedkit sekali, tapi karena ibunya cenderung kelebihan berat badan, ia tidak menyurutkan niat Daphne untuk diet.
     Ketika tiba saatnya masuk perguruan tinggi, Daphne adalah senang tapi juga takut, karena dia selalu menjadi bintang pelajar di sekolah tinggi dan tidak yakin dia bisa mempertahankankannya. Ketika di perguruan tinggi pada periode pemeriksaan pertama di perguruan tinggi, Daphne banyak mendapat nilai B. Dia merasa sangat rentan, merasa gagal, dan seolah-olah dia kehilangan kontrol. Dia juga tidak senang dengan kehidupan sosialnya pada pertengahan semester pertama. Daphne memutuskan bahwa banyak hal yang mungkin akan lebih baik jika ia kehilangan berat badan lebih, sehingga ia mengurangi asupan makanan dengan dua apel dan segenggam sereal setiap hari. Dia juga berlari setidaknya 15 mil setiap hari. Pada akhir semester musim gugur, berat badannya turun menjadi 102 pound. Dia juga mengalami kelelahan kronis, sulit berkonsentrasi, dan kadang-kadang pingsan. Namun, ketika Daphne melihat ke cermin, ia melihat seorang wanita, muda sederhana yang ingin menurunkan berat badan lebih.


DAFTAR PUSTAKA
Almasitoh, U. H. (2012). Model terapi dalam keluarga. Magistra. No 80
Clinebell. H. (2002). Tipe-tipe dasar pendamping dan konseling pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
Fawziah, A. (2012). Family Therapy (Terapi Keluarga). Diakses tanggal 06 Mei 2015 dari https://www.scribd.com/doc/111760136/Family-Therapy-Terapi-Keluarga
Sawitri, D. R. (2009). Posmodernisme dan family therapy berbasis belief system dan narrativesJurnal Psikologi Universitas Diponegoro. Vol.5. No.01.
Somaryati. & Astutik, S. (2013). Family therapy dalam menangani pola asuh orang tua yang salah pada anak slow learner. Jurnal bimbingan dan konseling islam.Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Vol.03. No.01.
Wijayanti, D.Y. (2010). Terapi keluarga. Diakses pada tanggal 07 mei 2015 dari http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:ethprMPTlpcJ:https://macind.files.wordpress.com/2010/12/terapikeluarga.pptx+&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id





 


Minggu, 29 Maret 2015

Psikoterapi tugas 1 (softskill)

Psikoterapi – softskill tugas 1

1. Ulasan mengenai pendekatan-pendekatan di dalam psikoterapi

a.  Pendekatan Psikoanalisa di dalam Psikoterapi
          Munculnya Psikoanalisa sebagai teknik psikoterapi diakui sebagai penemuan luar biasa, dan karena itu dianggap sebagai revolusi dalam dunia psikoterapi. Psikoanalisa adalah sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisa memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Konflik timbul karena adanya dorongan-dorongan yang saling bertentangan, sebagai manifestasidari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial disamping biologis. Arlow, 1980 (dalam corsini, 1989) mengatakan bahwa psikoanalisa adalah sistem dalam psikologi yang lengkap dan luas. Meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar, dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam kehidupan pribadi maupun kelompok.
          Psikoanalisa sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan yang mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil. Semula dipergunakan teknik hipnosis, Freud kemudian mempergunakan asosiasi bebas. Dengan asosiasi bebas, pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dikemukakan termasuk yang tadinya ditekan dibawah-sadarnya, tanpa dihambat atau dikritik. Namun timbul masalah lain karena dalam kenyataannya tidak semudah yang disangka, sehubungan dengan adanya rasa bersalah dan mekanisme pertahanan diri yang tentunya bisa menghambat pelaksanaan asosiasi bebas. Teknik dasar untuk melaksanakan psikoanalisis ialah dengan meminta pasien berbaring di dipan khusus dan psikoanalis duduk dibelakangnya, jadi posisi pasien menghadap ke arah lain, tidak bertatapan dengan psikoanalisnya. Pasien diminta untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat.
          Perhatian lebih banyak tertuju pada kecemasan (anxiety) dan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), daripada terhadap konflik-konflik yang terletak dibawah sadar. Demikian pula perhatian terhadap sesuatu yang ditekan berubah manjadi alat yang menekannya, yakni superego, jadi lebih dari bagaimana dan mengapanya sesuatu dorongan atau perasaan menjadi tidak disadari. “Id psychology” yang telah menjadi pusat perhatian dan pembahasan serta objek untuk diterapi, kemudian berubah menjadi “ego psychologi”. Dari keadaan inilah kemudian muncul istilah psikodinamik dan psikoanalisis-psikoterapi.

b.  Pendekatan Psikologi Belajar di dalam Psikoterapi
Teori dan pendekatan behavioristik sering disebut sebagai modifikasi perilaku (behavior modification) dan terapi perilaku (behavior therapy). Perhatian kita akan berfokus pada dua konsep penting, yaitu pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1847-1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Pemikiran kedua tokoh ini akan membantu memahami proses induksi (proses mengantar klien sampai pada tidur hipnotik) dan sugesti post hipnotik (sugesti yang diberikan selama trans).

Pengondisian Klasik
Prinsip-prinsip pengondisian klasik sering kali didasarkan pada penelitian Pavlov tentang refleks di akhir tahun 1800an. Pavlov membagi refleks menjadi dua, yaitu refleks bawaan dan refleks terkondisikan. Reflek bawaan adalah respon yang diberikan tanpa melalui proses belajar, seperti terkejut ketika terkena sengatan listrik; sementara refleks terkondisikan adalah respon yang muncul sebagai hasil belajar.
Berdasarkan penelitiannya itu, Pavlov merasa bisa menjelaskan sugesti, otosugesti, dan daya sugestif (suggestibillity) dalam hipnosis. Setiap kata yang disugestikan kepada klien adalah stimulus. Dengan memberikan stimulus itu berulang kali, maka reflek terkondisikan akan muncul. Dalam hidup kita sudah begitu banyak stimulus berupa kata-kata yang ditanamkan dalam pikiran. Oleh sebab itu, ketika mendengar kata “sakit”, seseorang bisa menghubungkannya dengan rasa sakit yang nyata. Dengan demikian, stimulus verbal berkorelasi dengan reaksi yang dikondisikan. Kata bisa menimbulkan respon otomatis pada tubuh kita. Itulah sebabnya bila klien mendengarkan kata “ngantuk”, ia akan merasa mengantuk. Dengan terus menerus mengulang kata yang sama, kita menanamkan kata itu dalam pikirannya. Inilah yang dinamakan refleks terkondisikan dalam proses hipnotik.

Pengondisian Operan
Skinner mengemukakan pemikirannya tentang pengondisian operan. Menurutnya, proses belajar bisa dicapai lewat penguatan (reinforcement). Dalam konteks hipnoterapi, penguatan yang baik akan menimbulkan respon positif yang nantinya akan bermanfaat dalam mengubah perilaku. Contoh penguatan verbal yang sering ditemui adalah ucapan “bagus” ketika klien mengikuti sugesti. Selain pujian verbal, penguatan dapat juga ditunjukkan lewat penataan ruang. Kesan yang nyaman di awal sesi punya pengaruh yang besar bagi keberhasilan di sesi-sesi berikutnya. Ada ungkapan jerman yang berbunyi, “Aller Anfang ist schwer (semua permulaan itu)”. Ini juga berlaku dalam hipnoterapi. Lingkungan yang tidak nyaman di sesi awal seperti suara berisik, penataan ruangan yang kurang rapi, dan suhu yang terlalu panas bisa melemahkan keterlibatan klien di sesi-sesi selanjutnya.
Sedangkan teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pendekatan behavioral yaitu :
a) Desentisisasi sistematis, yaitu suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan.

b)  Latihan asertif, yaitu latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya. Latihan ini tepat untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya.

c)   Terapi aversi, digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif, dengan meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

d)   Penghentian pikiran, teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas. Caranya, misal klien ditutup matanya sambil membayangkan dan mengatakan sesuatu yang mengganggu dirinya, misal berkata “saya jahat” pada saat itu klien memberi tanda, kemudian terapi berteriak atau berkata keras dan nyaring berkata “berhenti”jadi pikiran yang tadi digantikan dengan teriakan terapi, berulang-ulang sampai dirinya sendiri yang bisa menghentikan.

e) Kontrol diri, dilakukan untuk meningkatkan perhatian pada anak tugas-tugas tertentu, melalui prosedur self assessment, mencatat diri sendiri, menentukan tindakandiri sendiri, dan menyusun dorongan diri sendiri.

f)   Pekerjaan rumah, yaitu dengan memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi tertentu.

c.   Pendekatan Psikologi Humanistik di dalam Psikoterapi
Aspek praktis dari pemikiran humanistis ditemui dalam terapi yang berpusat pada pribadi (person-centered therapy) yang dikembangkan oleh Carl Rogers. Menurut rogers, diri yang ada dalam setiap manusia dapat dilihat sebagai segitiga. Segi pertama adalah diri yang sesungguhnya (real self), yaitu aku seperti apa adanya; segi kedua adalah diri yang dipersepsikan (perceived self), yaitu aku seperti yang diinterpretasikan atau dipersepsikan; dan segi ketiga adalah diri ideal (ideal self), yaitu diri yang aku cita-citakan
Dalam hipnoterapi, ada kecenderungan bagi terapis untuk menilai klien-kliennya sebelum mendengarkan mereka. Ini manusiawi, tapi tidak tepat dalam konteks terapi. Perlu kerja ekstra untuk menetralkan diri terlebih dahulu. Klien yang datang menemui terapis tidak meminta untuk dinilai. Mereka hanya butuh iklim yang nyaman untuk bercerita tentang pengalaman mereka.
Psikologi humanistis mengajak kita untuk berfokus pada sisi sehat kepribadian manusia dengan mengembangkan unconditional positive regard dan empati. Baik terapis maupun klien perlu melihat tubuh dengan kacamata sehat. Penyakit yang dialami tubuh menunjukkan ketidakseimbangan

d.  Pendekatan PsikologiKognitif di dalam Psikoterapi
Orientasi utama psikologi kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir dan merasa disaat ini. Perilaku adalah efek dari pikiran dan perasaan. Untuk alasan itu, bisa dimengerti mengapa terapi-terapi kognitif menekankan perlunya mengubah perilaku yang tidak sehat dengan mengubah cara klien dalam berpikir dan merasa.
Salah satu tokoh penting yang banyak meneliti proses kognitif adalah Aaron Beck. Menurut Beck, banyak gangguan psikologis disebabkan oleh pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif. Selanjutnya, pikiran dan perasaan negatif berkembang menjadi kepercayaan negatif sehingga perlu ditata ulang (direstrukturisasi) dan ditransformasikan menjadi kepercayaan yang positif

2. Uraikanlah kasus apa saja yang bisa ditangani dengan pendekatan-pendekatan dibawah ini :

  1. Psikodinamik
Klien yang sejak kecil melihat sang ayah memukuli ibunya hanya karna masalah kecil menyimpan kemarahan dan dendam dalam hatinya terhadap sang ayah, terlebih saat sang ayah juga ikut memukuli klien yang hendak menolong ibunya. Namun klien berusaha memendam dan melupakan rasa sakit hati, amarah dan kecewanya pada ayahnya, tetapi saat besar klien menjadi orang yang “keras” dan egois. Saat datang ke tempat terapi, terapis mencoba menggali informasi dengan menggunakan pendekatan psikodinamik yaitu asosiasi bebas. Klien dibiarkan untuk memunculkan, menceritakan dan mengekspresikan perasaannya seperti menangis, marah-marah dan membanting benda.

  1. Behavioristik
Kasusnya yaitu tentang klien yang mempunyai phobia ular. Klien yang sedang melamun di kagetkan seekor ular yang dikalungkan ke leher klien oleh temannya hingga membuatnya menjadi kaget dan menjadi phobia terhadap ular. Karena hal itu klien selalu menghindar, lari bahkan sampai menangis jika melihat ular

  1. Humanistik
Klien yang merupakan mahasiswa disalah satu universitas negeri ingin mengikuti kegiatan pariwisata dari kampusnya, namun klien tidak mempunyai uang untuk membayar iuaran tersebut. Klien merasa iri kepada teman-temannya karena semua temannya ikut kegiatan pariwisata tersebut, karena rasa iri itu akhirnya klien mengambil laptop temannya dan menjualnya lalu uangnya untuk membayar iuran kegiatan pariwisata.  Namun setelah itu ada pertentangan di dalam dirinya yaitu jika dia tidak mencuri dia tidak akan bisa ikut kegiatan pariwisata tapi setelah dia mencuri dia merasa bersalah kepada temannya. Karena perasaan bersalah itu membuat klien sedikit sadar namun belum sepenuhnya sadar bahwa yang telah dia lakukan adalah perilaku yang salah.

  1. Kognitif
Ada seorang mahasiswa yang berprestasi rendah di semester awal. Ia merasa bodoh dan tidak sepintar teman-temannya sehingga ia merasa rendah diri. Perasaan dan pikiran itu terus diperbesar dalam skema kognitifnyasehingga membuat prestasinya semakin menurun. Dalam perspektif kognitif, kepercayaan negatif ini perlu diperiksa untuk selanjutnya pelan-pelan digiring kearah kepercayaan yang positif. Oleh sebab itu, seorang hipnoterapis perlu melatih kepekaan diri dalam menangkap gejolak pikiran-pikiran negatif dalam klien. Baru sesudah itu, sesi terapi dapat dirancang untuk memunculkan perubahan perilaku.

3. Pandangan mengapa kasus-kasus diatas dianggap bisa ditangani oleh pendekatan-pendekatan dibawah ini

a)   Psikodinamik
Dari contoh kasus diatas dapat ditangani dengan pendekatan psikodinamik karena pendekatan psikodinamik menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki dua wilayah utama yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Ketidaksadaran berisi insting dan pengalaman traumatis yang di represi. Dengan asosiasi bebas klien dapat mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah lama ia simpan hingga membuat perasaannya menjadi tenang dan lega.

b)  Behavioristik
Menurut saya bisa menggunakan pendekatan ini karena klien diberikan sugesti mengenai hal yang di takuti nya. karena klien phobia terhadap ular, terapis memberikan gambar ular yang diletakkan cukup jauh dari klien saat klien mulai gelisah, terapis memberi sugesti agar klien tidak gelisah hingga gambar semakin lama akan semakin dekat dan klien berani memegang gambar tersebut. Setelah klien berani memegang gambar ular tersebut, terapis memperlihatkan ular mainan dan terus memberi sugesti hingga akhirnya klien berani memegang ular mainan tersebut.

c)   Humanistik
Menurut saya contoh kasus diatas dapat ditangani dengan pendekatan humanistik, karena klien menjadi pusat dari terapi ini dimana terapis lebih membiarkan klien menemukan jalan keluarnya sendiri. Menurut pandangan ini semua orang memiliki pandangan yang positif mengenai dirinya sendiri. Disini terapis hanya memberikan gambaran-gambaran tentang masalah yang dihadapi oleh klien tetapi tidak secara langsung memberi perintah untuk menaati apa yang dikatakan terapis, tetapi terapis berusaha agar klien menyadari sendiri apa yang baik.

d)   Kognitif
Contoh di atas dapat ditangani dengan metode ini karena dalam perspektif kognitif, kepercayaan negatif ini perlu diperiksa untuk selanjutnya pelan-pelan digiring kearah kepercayaan yang positif. Oleh sebab itu, seorang hipnoterapis perlu melatih kepekaan diri dalam menangkap gejolak pikiran-pikiran negatif dalam klien. Baru sesudah itu, sesi terapi dapat dirancang untuk memunculkan perubahan perilaku.

Sumber :
Gunarsa, S. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Kahija, YF La. (2007). Hipnoterapi: Prinsip-prinsip Dasar Praktik Psikoterapi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Qomariah, N. Handout Psikologi Konseling. 

Senin, 26 Januari 2015

Psikologi Konsumen (Softskill) - tugas 3

Tugas 3
PSIKOLOGI MANAJEMEN - SOFTSKILL

1. Peranan konflik dalam mengembangkan manajemen di perusahaan

          Konflik merupakan bagian dari suatu hubungan yang terjalin dengan orang lain. Konflik adalah ekspresi pertikaian individu satu dengan individu lainnya karena berbagai alasan. Konflik bukan sesuatu yang dihindari, secara alamiah konflik sudah pasti muncul dan tidak terhindarkan. Sekarang ini konflik adalah sesuatu yang harus diselesaikan, bahkan pada beberapa organisasi konflik yang bisa diselesaikan dijadikan sebagai indikator kemajuan dalam organisasi.
          Upaya penanganan konflik sangat penting dilakukan, hal ini disebabkan karena setiap jenis perubahan dalam suatu organisasi cenderung mendatangkan konflik. Perubahan institusional yang terjadi, baik direncanakan atau tidak, tidak hanya berdampak pada perubahan struktur dan personalia, tetapi juga berdampak pada terciptanya hubungan pribadi dan organisasional yang berpotensi menimbulkan konflik. Stoner mengemukakan tiga cara dalam pengelolaan konflik, yaitu: merangsang konflik di dalam unit atau organisasi yang prestasi kerjanya rendah karena tingkat konflik yang terlalu kecil. Termasuk dalam cara ini adalah:
  1. minta bantuan orang luar
  2. menyimpang dari peraturan (going against the book)
  3. menata kembali struktur organisasi
  4. menggalakkan kompetisi
  5. memilih manajer yang cocok

Contoh Kasus
          Perusahaan penyiaran televisi yang sudah cukup lama mengudara. Terdengar santer sedang mengalami kemunduran, banyak karyawannya yang di PHK atau pensiun dini, sekitar 100 orang lebih. Berita kemunduran perusahaan penyiaran ini sudah tersebar kemedia, dan terdengar oleh pemilik perusahaan penyiaran swasta yang lain. perusahaan penyiaran ini mendaftarkan untuk menjual sahamnya di bursa efek.



Penyelesaian Kasus
          Akhirnya salah satu perusahaan penyiaran ternama membeli 50% sahamnya. Setelah diadakan rapat umum pemegang saham tahunan, maka diputuskan sekitar 85% saham di jual, dan akhirnya susunan anggota dewan komisaris dan direksi terjadi perubahan. Pembeli saham memutuskan untuk menggabungkan perusahaan penyiaran televisi yang mereka miliki digabung dengan perusahaan penyiaran yang baru saja sahamnya dibeli. Dan akhirnya tercetuslah beberapa program yang menjadi unggul di dunia pertelevisian, dan bahkan menjadi trending topic. Ada beberapa program musik yang menaikkan ratting perusahaan penyiaran swasta ini menjadi naik, program mencari bakat juga sangat mencuri hati pemirsa dipandu dengan host yang lucu dan interaktif. Ini yang menarik pemirsa untuk menyaksikan acara-acara yang terdapat di perusahaan penyiaran sawsta ini. Mengungguli program penyiaran yang fenomena saat itu.

2. Peranan kepemimpinan untuk mengatasi konflik struktural dan konflik fungsi kerja yang telah terjadi di dalam sebuah manajemen di perkantoran

          Kepemimpinan dapat dikatakan penting apabila memanfaatkan dan mengelola potensi setiap anggota dengan cara yang tepat. Maka dari itu seorang pemimpin dalam mengendalikan kepemimpinannya harus mendorong perilaku positif dan meminimalisir semua yang negatif, mencari pemecahan masalah, mempelajari perubahan di sekitarnya, serta mencanangkan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan.
  • Konflik Struktural : konflik yang erat kaitannya dengan hirarki jabatan pekerjaan seperti konflik antara supervisor dengan asisten manajer, konflik antara dewan direksi dengan manajemen puncak, konflik antara pihak manajemen dengan karyawan
  • Konflik Fungsi Kerja : konflik yang muncul karena suatu departemen kerja berinteraksi dengan departemen kerja lainnya, dimana antar departemen memiliki pemahaman yang berbeda untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Seperti konflik antara departemen pemasaran-departemen produksi-departemenpersonalia.

Gaya Manajemen yang membangun
  1. Memelihara hubungan yang positif selama konflik
Manajer membangun suasana bagi bawahannya. Kepercayaan, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama penting untuk mengatasi konflik secara efektif. Amarah dalam perusahaan dapat mendorong perusahaan melangkah lebih jauh ke depan atau dapat menghancurkan semangat kerja. Cara manajer mengatasi konflik dan amarah memainkan peranan penting atas berhasil tidaknya perusahaan dalam mencapai tujuan.
  1. Mendorong semua orang Berpartisipasi
Tanggung jawab bersama dapat meningkatkan rasa turut memiliki. Konflik tahap tinggimemicu nafsu merusak, kepentingan pribadi didahulukan sedangkan kepentingan perusahaan diabaikan. Rasa turut memiliki dapat dibangkitkan dengan muda: ingatan semua pihak bahwa “kita” adalah tim. Selain itu, anda juga dapat melimpahkan tanggung jawab pada semua pihak dengan cara mewajibkan semua anggota kelompok untuk menempatkan diri dan berpikir sebagai seorang manajer, serta perbaikan mutu berada diluar kelompok kerja yang lazim”. Tanggung jawab bersama penting artinya karena dimaksudkan untuk menekankan bahwa suatu masalah bukan milik satu orang, dan setiap orang bertanggung jawab untuk turut mencari jalan keluar bila ada masalah yang sulit dipecahkan.
  1. Mendengar secara Aktif
Banyak mempelajari keterampilan mendengar itu murah, namun harganya tidak ternilai bila telah dimiliki. Orang berbicara dan terus berbicara, namun tidak mampu berhenti sejenak pun untuk mendengarkan orang lain. Kelemahan ini adalah penyebab utama konflik. Mendengarkan mengalir timbal balik seorang manajer tidak akan didengarkan oleh anak buahnya jika ia sendiri bukan pendengar yang baik.  
  1. Sediakan waktu untuk meninjau ulang
Pembicaraan mengenai suatu persoalan, masalah atau keputusan dapat ditangguhkan. Menangguhkan pembicaraan adalah alat yang penting. Menyediakan waktu untuk meninjau ulang segala sesuatu memberikan kesempatan pada semua pihak untuk meraih kembali objektivitas, merenungkan kembali pendapat mereka dan mempertimbangkan dampak jangka panjang konflik pada hubungan kerja mereka dengan rekan dan bawahan.


  1. Bedakan fakta dari pendapat
Kita mudah sekali yakin pendapat kitalah yang benar. Namun, pendapat mencerminkan persepsi, bukan kenyataan. Jika anda cenderung menolak pendapat yang kaku dan lebih mendorong kebenaran bersyarat, anda akan lebih efektif dalam konflik tahap tinggi, karena persoalan pada konflik tahap kedua dan ketiga memang berhubungan dengan persepsi.
  1. Fokus pada masalah, bukan orang
Strategi ini sangat penting agar konflik dapat diatasi dengan tepat pada tahap manapun. Bila orang dan masalah dicampur, dimensi masalah menjadi jauh berbeda dan biasanya mudah berubah-ubah. Memisahkan orang dari masalah sering kali sangat sulit, tetapi seorang manajer seperti anda harus bisa melakukannya.

Contoh Kasus
          Jasa pelayanan ini merupakan jasa pelayanan terkemuka di Indonesia sudah mengalami beberapa masalah menghadangnya dan terutama yang sedang terjadi adalah masuk daftar yang terkena sanksi Namun sebelumnya sudah terjadi masalah yang terdapat diinternal dari maskapai itu sendiri.
          Tingkat ketepatan waktunya rendah (di bawah 85 persen), Kecurangan banyak dilakukan orang-orang dalam yang bekerjasama dengan penguasa, load factor-nya di bawah rata-rata industri (60 persen). Total hutangnya mencapai 845 juta dollar AS dengan cash flow negatif (ini menandakan secara teknis ia telah bangkrut).
Penyelesaian kasusnya
          Setelah mengalami konflik internal yang terlalu benyak dan terancam bangkrut jasa pelayanan ini mengganti direktur utamanya dengan yang baru. Bekerja ditempat baru dan lingkungan baru pasti dihadapkan dengan rasa canggung dengan semua keadaanya namun direktur baru ini mempunyai tips sebagai orang baru yaitu lebih banyak membuka telinganya, harus lebih banyak mendengar tidak boleh mudah tersinggung karena banyak orang yang mau mengajari. Untuk bisa mendengar problem yang terjadi, keluh kesah karyawan direktur baru ini sering keliling ke berbagai bagian divisi kantornya ketimbang duduk santai di ruangan kerjanya. Setelah banyak mendengar, langkah selanjutnya membangung kepercayaan kepada semua karyawan. Peranan kepemimpinanya sangatlah efektif dalam menyeselaikan masalah-masalah yang terjadi diinternal.

3. Praktek Dehumanisasi yang biasanya sering muncul dalam praktek-praktek manajemen

          Dehumanisasi merupakan suatu tindakan yang kurang manusiawi dalam memberikan suatu perlakuan tertentu kepada orang lain. Bentuk yang paling mudah dikenali adalah tindakan kasar dan keras kepada pekerja. Tindakan ini mencederai rasa seseorang untuk menjalankan pekerjaannya dengan penuh rasa nyaman, sehingga menjadi sulit untuk berkonsentrasi dalam bekerja.

Contoh kasus 1
          Sebagai contoh kasus perlakuan buruk itu adalah seperti yang menimpa sebanyak 30-an buruh. Sebagian besar buruh atau pekerja ini berasal dari Lampung dan Cianjur (Jabar). Mereka dipaksa kerja tanpa mendapat gaji, makan, dan hidup layak. Mereka bekerja di pabrik pengolahan limbah menjadi panci aluminium, di suatu lokasi di Kampung Bayur Opak, Sepatan Timur, Tangerang, Banten, tanpa memiliki pilihan. Perbuatan melanggar hak asasi manusia (HAM) itu dilakukan oleh Yuki Irawan (41), pemilik pabrik pengolahan limbah menjadi panci aluminium, yang diduga berkomplot dengan beberapa preman dan oknum polisi dalam menyekap dan memaksa para buruh bekerja secara paksa. Buruh tidak hanya dipaksa bekerja tanpa gaji, tetapi juga dianiaya. Bahkan tidak diperkenankan bersosialisasi, diperlakukan layaknya binatang.
          Para korban yang terperangkap dalam sindikat kerja paksa atau “perbudakan” tersebut berawal dari iming-iming mandor dan bos pabrik akan mendapat gaji menggiurkan. Janji itulah yang mengantar mereka ke “kurungan” di lingkungan pabrik. Ada yang mulai bekerja sejak Februati 2013, ada yang baru mulai akhir tahun 2012. Namun nasib mereka sama, diperlakukan semena-mena. Harapan meningkatkan taraf hidup hanya mimpi. Dua pekerja asal Lampung yang telah terjerat kerja paksa sejak empat bulan lalu yang membuka tabir. Keduanya kabur dan melapor ke kepolisian. Berdasarkan laporan itu Polda Metro Jaya, Jumat (3/5/2013) malam, bersama aparat dari Polresta Tangerang, menggerebek lokasi, sehingga praktik kerja paksa menjadi terang benderang. Meskipun kasus ini terjadi pada tahun lalu, akan tetapi kasus ini benar-benar menjadi tamparan serius bagi bangsa ini, karena ada aparat bersekongkol memaksa dan menganiaya demi bayaran, dan preman sesuka hati melakukan pemaksaan untuk keuntungan pemilik modal sekaligus untuk hidup bahkan memperkaya diri.

Pelanggaran yang terjadi
          Pelanggaran yang terjadi pada kasus diatas adalah mengenai kebebasan para pekerja yang diambil paksa karena disekap dan diperlakukan tidak adil oleh pemilik tempat kerja tersebut. Selain disekap para karyawan juga tidak mendapatkan upah yang layak, mereka juga tidak mendapatkan makan dengan baik, mereka diperlakukan seperti bukan manusia itu jelas bertentangan dengan hak asasi manusia.

Contoh kasus 2
Pabrik China Perbudak Orang Cacat Mental
Kompas, Selasa, 14 Desember 2010 BEIJING, KOMPAS.com
         
          Pihak berwenang China menutup sebuah pabrik di barat negara karena diduga telah memperbudak 11 orang pekerja, kebanyakan cacat mental, selama bertahun-tahun dalam kondisi yang sangat menyedihkan, lapor media pemerintah  Selasa (14/12). Kasus tersebut, yang merupakan contoh terbaru penyalahgunaan tenaga kerja dinegarayang luas itu, muncul tiga tahun setelah kasus skandal perbudakan besar yang melibatkan ribuan pekerja yang ditemukan dipaksa bekerja di tempat pembakaran batu- bata.Ke-11 orang itu bekerja di sebuah pabrik bahan bangunan di Xinjiang barat dengan jamkerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan yanglayak untuk anjing, lapor. Mereka bekerja di sebuah pabrik bernama Jiaersi Green Construction Material Chemical Factory dan tak satu pun dari mereka yang dibayar, kata laporan itu. Beberapa dari mereka telah bekerja selama empat tahun.Para pekerja yang mencoba untuk melarikan diri dipukuli secara rutin. Menurut pemilik pabrik itu, Li Xinglin, para pekerja dikontrak untuk bekerja di pabrik tersebut oleh sebuah lembaga bantuan yang tidak terdaftar bagi penyandang cacat yang berbasis di Provinsi Sichuan di barat daya negara itu, kata Li mengaku, ia telah membayar ke agen itu sebesar 9.000 yuan (1.350 dollar AS) untuk pengiriman lima orang dari para pekerja itu serta tambahan 300 yuan per pekerja per bulan, kataharian tersebut. Kantor berita Xinhua mengatakan, polisi di Xinjiang dan Sichuan tengahmelancarkan perburuan terhadap Li setelah dia melarikan diri dari pabrik itu  bersama sejumlah pekerja. Istri Li telah ditahan polisi, demikian dilaporkan. Kepala  badan bantuan itu, yang diidentifikasi sebagai Ze

Pelanggaran yang terjadi
          Pelanggaran yang terjadi pada kasus kedua yaitu perbudakan pada karyawan, bahkan terdapat karyawan yang cacat mental. selama bertahun-tahun para pekerja diperlakukan seperti budak oleh pemilik pabrik dan hal itu baru diketahui beberapa waktu yang lalu. Memperlakukan pegawai biasa dengan kejam saja sudah mencerminkan suatu ketidak adilan apalagi memperbudak karyawan yang cacat mental. semua orang mempunyai hak yang sama terlepas dari kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Daftar Pustaka:
Pickering, peg. (2006). Kiat Menangani Konflik. Airlangga.
Rahayu, S. (2013). Konflik interpersonal karyawan PT. PLN yang dipimpin oleh manajer junior. Malang: Jurnal online psikologi. Vol 01, no. 01